PENGUMUMAN KELULUSAN

 



Hari ini saya menghadiri undangan ‘Pengumuman Kelulusan’ dari sekolah tempat anak saya menghabiskan waktu satu tahun terakhir di Sekolah Dasar, setelah sebelumnya pindah dari Banten menuju Jember, lalu terakhir di Jogja, tepatnya Kabupaten Sleman bagian barat. Sekolah Dasar yang berada tak jauh dari rumah. Letaknya di pinggiran. Meski begitu, sekolah kampung tempat anak saya belajar ini langganan berprestasi, baik di bidang akademik maupun non akademik.

Dalam ruangan itu, saya memilih duduk di samping ibu-ibu yang kursi sebelahnya kosong. Sambil menunggu acara yang belum juga dimulai, saya ngobrol dengannya. Dari obrolan ringan itu saya baru tahu ternyata dia adalah ibu dari siswi paling pintar di kelas tersebut. Anaknya jago matematika dan sains. Dan mendapat peringkat tiga besar olimpiade matematika dan sains di tingkat Nasional. Dia seorang single parent. Suaminya meninggal. Beberapa kali kami membicarakan anak-anak zaman sekarang yang ‘didewasakan’ oleh lingkungan. Dan bercerita bahwa dia sering menasehati anaknya untuk tidak terbawa arus itu. Saya manggut-manggut saja.

Bapak dan ibu guru memasuki ruangan. Suasana yang tadinya sedikit gaduh, hening seketika. Semua dilanda kecemasan dengan hasil ujian anak-anaknya. Tak terkecuali si ibu di samping saya, meskipun harapan untuk lulus cukup besar, namun dia tetap saja berharap cemas. Ah, ibu-ibu dimana-mana sama ya. Selalu mengkhawatirkan anaknya berapapun usia mereka.

Aku memandangi jam dinding besar di depanku sampai bosan. Lalu mulai tegang ketika nama para siswa dan siswi dipanggil satu demi satu untuk mengambil rapor. Setelah ibu siswi pintar di sampingku menerima hasil belajar anaknya, giliran nama anakku dipanggil. Aku membuka map hard cover dengan gelisah. Aku tak berniat menelusuri angka-angka dalam rapornya. Aku hanya mencari kata “LULUS/TIDAK LULUS”. Dan saat aku sudah menemukannya, aku berseru kencang dalam hati. Alhamdulillah, lulus.

Ibu di sampingku? Dia menangis sesenggukan. Antara marah dan sedih, aku tak paham. Kemudian anaknya, siswi pintar itu, menghampiri ibunya. Dia menanyakan nilai rapornya. Ibunya tampak mengomel pelan sambil menunjukkan wajah yang kecewa. Aku memandangi raut wajah si anak. Dia tampak kecewa, atau sedih, atau takut, entahlah.

Nilainya tak memuaskan bagi ibunya (meskipun bagiku, nilainya jauh diatas nilai anakku. Aku yakin dia akan lolos tes masuk SMP terbaik di kota ini). beberapa orang dibelakang kami menghibur si ibu. Mereka menyemangatinya. Aku? Aku diam saja, karena setelah kata “LULUS”, yang berikutnya aku amati adalah angka-angka di samping tulisan nama anakku. Satu mata pelajaran bahkan nilainya tidak memuaskan. Tapi aku tahu bahwa menjelang ujian, dia belajar sangat keras sampai malam, lalu bangun sebelum subuh untuk melanjutkan belajarnya. Dia sudah melakukan yang terbaik.

“Nilainya ga biasanya seperti itu,” ibu di samping berbicara padaku. Aku masih melongo. “Biasanya selalu dapat seratus,” katanya melanjutkan. Aku tersenyum, “dia udah belajar bu. Gak papa, nilainya masih tinggi kok itu. Masih bisa masuk SMP favorit.

“Tapi ndak biasanya seperti itu,” dia masih memuaskan rasa kecewanya pada anaknya.

Ya, biasanya dia mempersembahkan nilai yang sempurna untuk ibunya. Sekali nilainya tak sempurna, hilang rasa bangga ibunya.

Kasihan. Anak bukanlah alat pemuas orang tua. Mereka yang terbiasa menjadi kebanggaan orang tuanya, akan merasa ditolak ketika sekali waktu mengecewakan. Padahal angka-angka di atas kertas itu bukanlah patokan kesuksesan anak kelak.

Kecerdasan manusia itu terbagi menjadi delapan bagian. Kalau tak berhasil di satu bagian, masih ada tujuh bagian yang lain. Tenang aja.

Saya yakin anak-anak pintar dengan caranya sendiri. Dan yang pasti, mereka masih akan terus bertumbuh. Jangan tergesa-gesa melabeli mereka dengan sebutan bodoh. Tak semua anak ingin jadi ilmuwan. Sebagian ada yang ingin menjadi akuntan, sebagian ada yang ingin menjadi chef, sebagian lagi ingin menjadi ulama. Tak ada yang salah dengan nilai matematika yang buruk, tak ada yang salah dengan nilai bahasa inggris yang jeblok. Yang salah adalah anak-anak yang tak dikenalkan dengan agamanya, karena itu akan jadi pertanggung jawaban orang tua kelak di yaumil hisab.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Mba diah, apik tulisane mba. Semoga jadi inspirasi bahwa sukses anak bukan karena angka, noted

    BalasHapus