PRITA HW: MUSLIMAH DENGAN SEGUDANG ILMU

 

Pernah ngga sih, saat kita berinteraksi dengan seseorang, perhatian kita tersedot sepenuhnya padanya? Saya pernah bertemu beberapa orang yang seolah-olah memiliki magnet seperti itu, salah satunya adalah Prita HW. Oh ya? Sebesar apa sih pengaruhnya?

 

Saat itu pertengahan tahun 2018 (atau 2019 ya? Saya lupa), seseorang membagikan flyer di grup tahsin tentang workshop online writing yang diadakan di perpustakanaan Universitas Jember. Saya bukan orang yang gampang terpengaruh dengan iklan-iklan ya, haha. Tapi, takdir Allah emang selalu menemukan jalannya. Tahu-tahu saya sudah mendaftarkan diri.

Diantara 8 jenis kecerdasan pada manusia, kecerdasan visual saya amat buruk, hehe. Itulah sebabnya, meskipun lahir dan besar di Jember, urusan arah jalan dan peta, saya angkat tangan. Mencari satu gedung perpustakaan saja saya membutuhkan waktu hampir setengah jam di seputaran double way UNEJ. Tapi, drama salah alamat itupun terbayar saat mba Prita (demikian saya memanggilnya, walau belakangan saya tahu ternyata kakaknya adalah teman SMP saya, haha) menampakkan diri di depan para peserta workshop.

Semua mata tertuju pada satu orang, mba Prita HW. Dengan suara yang lantang, dia menyampaikan tiap-tiap materi secara gamblang. Pertanyaan demi pertanyaanpun dijawab dengan bahasa yang mudah dipahami. MasyaAllah, ini yang dinamakan falling at first sight kali ya? Haha. Saya, yang konon anti mengikuti iklan, tiba-tiba berharap bisa melanjutkan di kelas berikutnya, tidak hanya workshop saja.

 


 

Lagi-lagi Allah mempertemukan saya kembali dengannya di kelas menulis online OWC batch 1. Itu adalah kelas menulis pertama yang pernah saya ikuti. Dari kelas tersebut saya mendapatkan banyak sekali ilmu pengetahuan baru yang belum saya pelajari sebelumnya. Ternyata ibu dua anak yang merupakan lulusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlangga ini memang memiliki kecintaan yang luar biasa pada dunia literasi semenjak kecil , meski sempat merasa “tersesat” saat bekerja pada perusahaan advertising.

 

Di akhir tahun 2015, saya dikembalikan ke titik nol. Titik dimana lima tahun lalu saya merasakan hal yang sama. Idealisme dan realita selalu bersinggungan. Apa yang terjadi, maka terjadilah ketika Allah berkehendak^^ Tugas kita hanyalah menjalaninya dengan sebaik-baiknya.

 

Setelah resign dari tempat kerja yang seakan-akan “salah alamat” tersebut, dia akhirnya mulai mengeruk kembali passion yang sudah lama terkubur, dan kembali mengelola blog pribadinya secara serius. Keputusannya bergabung bersama komunitas blogger dan pertemuannya dengan beberapa orang yang inspiratif, merupakan cikal bakal kesuksesannya pada bidang literasi di masa mendatang.

Tulisan-tulisannya di berbagai media sudah banyak dimuat. Terkenal dengan penulis bergaya story telling, mba Prita pintar membuai imajinasi para pembacanya. Tak heran sih, melalui The Jannah Institute, dia banyak menelorkan banyak generasi mahir public speaking. Jadi kemampuan bertutur secara terstruktur yang sudah sangat mumpuni itu dituangkan dalam bentuk tulisan.  

 

Kita masih terjajah oleh sistem yang mengungkung, yang arusnya begitu kuat untuk menarik kita kembali ke dalam pusaran hedonnya. Dialah kapitalisme. Ideologi yang semuanya hanya diukur dari materi semata.

 

Tak hanya membuai para pembaca, tulisan mba prita juga cukup tajam dalam mengkritisi hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Kadang, membaca tulisan-tulisannya membuat orang terjaga dari ‘tidur’ dan mulai berpikir bahwa negara ini butuh lebih banyak orang-orang yang peduli dengan sekitarnya.

Kiprahnya ini menginspirasi banyak orang dari berbagai usia, masyaAllah. Bukankah hidup kita memang harus diisi dengan segala sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain? Semoga kita termasuk orang-orang yang banyak melakukan kebaikan tanpa menghitung-hitungnya.

 

 

Posting Komentar

0 Komentar